Memahami Keberbakatan Istimewa

Memahami Keberbakatan Istimewa

Health Medical

Benar bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia memiliki keunikan dan membawa beragam potensi sebagai anugerah dari Sang Penciptanya. Berbagai keunikan dan potensi inilah yang kemudian membedakannya dengan anak-anak lain. Tak ada satu anakpun yang memiliki kesamaan dalam segala aspeknya dengan anak lainnya. Namun jika dikatakan bahwa setiap anak adalah anak Gifted (anak yang memiliki bakat istimewa) maka hal itu adalah suatu klaim yang jauh dari kebenaran dan realitas sesungguhnya. Gifted atau keberbakatan istimewa adalah suatu istilah yang merujuk pada adanya satu atau beberapa potensi yang dimiliki oleh seorang anak/individu yang sifatnya diluar keumuman (extra ordinary), perkecualian (exceptional), dan di luar norma (beyond the norm) dalam hal kemampuan atau potensi bawaan.

Batasan tentang istilah keberbakatan istimewa (Giftedness)

Sampai saat ini tidak ada batasan tunggal yang merepresentasikan arti istilah gifted. Halmana karena memang tidaklah mudah untuk memberi batasan atas suatu fenomena yang kompleks seperti giftedness ini. Orang tua, guru, masyarakat, ahli, dan praktisi (khususnya di bidang psikologi dan pendidikan) pun juga memiliki beragam pemahaman atas apa yang dimaksud dengan keberbakatan istimewa (giftedness). Guna mempermudah pemahaman tentang makna istilah keberbakatan istimewa, berikut diuraikan secara singkat sejarah dan sudut pandang para ahli yang secara khusus melakukan studi dan penelitian tentang keberbakatan istimewa.

Asal muasal istilah Gifted

Di tataran publik istilah gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton (saudara sepupu pencetus teori evolusi Charles Darwin) pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu lebih mengacu pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Titik tekan konsepsi keberbakatan istimewa menurut Galton ada pada berbagai bidang. Ia memberi contoh seperti ahli kimia Madame Curie sebagai gifted chemist (ahli kimia dengan bakat luar biasa atau istimewa). Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children.
Dalam perkembangannya, Lewis B.Terman, seorang ahli psikologi dan psikometri dari Universitas Standford di Amerika Serikat memperluas pandangan Galton tentang keberbakatan istimewa menjadi termasuk juga di dalamnya individu-individu dengan kapasitas kognitif atau intelektual yang sangat tinggi. Sebagai perumus dan originator tes intelegensi Stanford Binet, Lewis Terman benar-benar terobsesi dengan fenomena anak-anak gifted ini. Di awal tahun 1900-an ia bersama koleganya di Universitas Stanford mulai melakukan penelitian panjang tentang anak-anak gifted. Dari hasil studinya ini Terman kemudian merumuskan konsepsinya tentang arti keberbakatan istimewa atau giftedness. Ia memberikan batasan bahwa anak-anak Gifted adalah anak-anak yang memiliki kapasitas kognitif sebagaimana terukur dengan tes intelegensi Stanford Binet, berada pada kisaran skor IQ di atas 140.

Berdasarkan penelitiannya Terman juga meyakini bahwa meski anak-anak gifted ini di kemudian hari pada umumnya sukses sebagai orang-orang dewasa di berbagai bidang profesi, tetapi kesuksesan mereka tersebut tak semata disebabkan oleh karena kapasitas kognitif mereka yang sangat tinggi tetapi juga disumbangkan oleh faktor-faktor non kognitif yang mereka miliki seperti semangat, motivasi, komitmen, ketekunan, dan keberanian mengambil risiko.

Pada tahun 1926 Leta Hollingworth, seorang ahli psikologi pendidikan Amerika Serikat, merilis bukunya yang dikemudian hari menjadi salah satu buku legendaris dalam khazanah literatur tentang keberbakatan istimewa yang bertajuk âGifted Children : Their Nature and Nurture❠. Dalam buku ini ia mengemukakan pendapatnya bahwa meski potensi keberbakatan istimewa adalah sesuatu yang sifatnya menurun tetapi tanpa adanya pola pengasuhan dan ketersediaan lingkungan yang mendukung maka potensi keberbakatan istimewa tersebut hanya akan tinggal potensi, tak akan pernah teraktualisasi. Oleh karena itu pada periode 1930-an ia tampil menjadi penganjur utama tentang perlunya bagi orang tua memberikan pola asuh dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak dengan bakat istimewa agar dapat mengaktualisasikan potensinya. Karena masifnya kampanye yang dilakukan oleh Leta Hollingworth inilah maka sejak saat itu istilah gifted selalu dipergunakan orang untuk merujuk pada potensi yang sangat tinggi yang dimiliki oleh seorang anak atau individu.

Pada dekade 1970-an, Jozeph Renzulli dari Universitas Connecticut mengajukan konsepsinya tentang keberbakatan isitmewa dalam teorinya yang terkenal kemudian sebagai The Three Rings of Giftedness. Pokok konsepsi dari teori Renzulli ini adalah keberbakatan istimewa baru akan dapat muncul dan teraktualisasikan jika terdapat 3 traits (sifat) utama yang terdapat atau muncul pada diri seorang individu. Ke-3 traits itersebut adalah :

  1. Potensi kognitif atau kapasitas intelektual yang berada pada kisaran di atas rata-rata (High Potential Ability).
  2. Dorongan atau motivasi yang kuat untuk meraih tujuan (task commitment).
  3. Kreatifitas (creativity).

Menurut Renzulli selama ketiga traits tersebut tidak dapat ditunjukkan (dimiliki) oleh seorang anak atau individu maka maka belumlah dapat disebut sebagai anak atau individu dengan bakat istimewa (gifted child). Renzulli memberi contoh bahwa Albert Einstein adalah prototipe yang sangat tepat bagi individu dengan bakat istimewa (gifted). Selain memiliki kapasitas intelektual yang sangat tinggi, Einstein juga dikenal sebagai individu yang sangat memiliki motivasi tinggi untuk meraih apa yang dia inginkan. Selain itu sifat kreatifnya juga sangat kental tatkala ia merumuskan teori relatifitasnya yang sangat terkenal (dimana pada saat itu tak banyak orang yang menyetujuinya). Di sini nampak jelas Einstein sebagai seorang jenius yang punya imajinasi dan kreatifitas diluar keumuman.

Ahli psikologi perkembangan dan psikometri kontemporer dari Amerika Serikat Linda K. Silverman juga mengajukan konsepsi tentang keberbakatan istimewa. Konsepsi yang diajukannya agak berbeda dengan ahli-ahli sebelumnya. Dalam konsepsinya yang terkenal dengan teori Asynchronous Development (perkembangan yang tidak serasi), ia menyebutkan bahwa dimensi terpenting dari adanya keberbakatan istimewa adalah adanya fenomena tumbuh kembang yang tidak serasi dalam diri seorang anak atau individu. Perbedaan utama konsepsi yang diajukan oleh Linda Silverman dengan ahli-ahli sebelumnya adalah jika ahli-ahli sebelumnya hanya melihat keberbakatan istimewa dari sudut pandang bakat atau potensi yang sangat tinggi (istimewa) yang ditunjukkan atau dimiliki oleh seorang anak atau individu, maka Linda Silverman menambahkan satu aspek lain yang sangat penting yaitu aspek emosi. Jadi selain dilihat dari sudut pandang potensi yang sangat tinggi (istimewa) yang dimiliki oleh seorang anak atau individu maka pola perkembangan anak atau individu dari aspek intelegensi, emosi, dan fisik juga sangat perlu mendapat perhatian khusus. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya ia menyebutkan bahwa ternyata pola perkembangan anak atau individu yang memiliki bakat istimewa (gifted) jauh berbeda dengan pola perkembangan anak-anak normal, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Lebih jauh konsepsi Linda Silverman ini kemudian dikembangkan oleh sekelompok orang tua, peneliti, ahli psikologi, dan pendidik yang tergabung dalam kelompok yang menamakan dirinya sebagai the Columbus Group. Menurut mereka batasan atau definisi keberbakatan istimewa adalah :

â Giftedness atau keberbakatan istimewa adalah suatu pola perkembangan yang tidak sinkron (tidak serasi; asynchronous development ) pada individu-individu tertentu, dimana didalamnya terkombinasi suatu tingkat kemampuan kognitif yang sangat maju yang disertai dengan intensitas emosi (kedalaman perasaan; emotional intensity) yang sangat kuat, yang pada akhirnya menciptakan suatu pola pengalaman dan kesadaran dalam diri individu-individu tersebut yang secara kualitatif sangat berbeda dengan anak-anak lain yang seusianya. Ketidakserasian ini akan semakin meningkat dengan semakin tingginya kapasitas intelektual yang mereka miliki. Keunikan seperti inilah yang pada akhirnya mempersyaratkan adanya suatu pola pengasuhan, pengajaran, dan pembimbingan yang khusus agar proses tumbuh kembang mereka dapat berjalan dengan optimal ❠(The Columbus Group, 1991)

Selain batasan sebagaimana diuraikan di atas juga terdapat batasan yang merujuk pada tampilan (performance) akademik yang ditunjukkan oleh seorang anak selama di sekolah. Menurut definisi ini anak-anak berbakat istimewa (gifted) adalah anak-anak yang berada pada kisaran 5%-10% teratas dilihat dari prestasi akademik yang mereka tunjukkan di sekolah. Mengacu pada definisi ini maka anak-anak yang tergolong berbakat istimewa perlu mendapatkan materi belajar dan model pembelajaran yang lebih menantang yang berbeda dengan teman-temannya. Definisi ini meski mudah dalam aplikasinya (khususnya dari aspek identifikasi) tetapi sangat kurang mendapatkan dukungan dari para ahli psikologi, khususnya karena terlalu menekankan pada aspek prestasi namun kurang mempertimbangkan aspek kepribadian dan tumbuh kembang dari anak-anak berbakat istimewa. Selain itu dalam aplikasinya standar kriteria 5%-10% teratas dalam ranah prestasi akademis juga masih diperdebatkan, khususnya dalam hal instrumen apa yang dipergunakan untuk mengukurnya.

Definisi paling mutakhir yang kini menjadi arus utama (mainstream) dan banyak disepakati oleh para ahli, baik dalam ranah psikologi maupun pendidikan adalah teori Gagne yang (terakhir) diperbaharui pada tahun 2008. Teori Gagne ini pada dasarnya menitikberatkan konsepsi keberbakatan istimewa sebagai sesuatu yang merupakan hasil interaksi antara faktor keturunan (genetic) dan faktor tumbuh kembang (developmental) yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

Di samping itu salah satu pokok konsepsi keberbakatan istimewa dalam teori Gagne ini adalah keberbakatan istimewa pada prinsipnya bersifat multi domain. Konsepsi inilah yang membedakan secara eksplisit antara teori Gagne dengan teori lain yang cenderung bertumpu pada konsepsi keberbakatan istimewa sebagai semata keberbakatan dalam domain intelektual. Di samping itu teori Gagne juga mendapatkan basis ilmiah yang kuat karena sejalan dengan teori intelegensi paling mutakhir yaitu teori Cattel-Horn-Carrol (2003) yang menyebutkan bahwa kecerdasan sebagai konstelasi kemampuan manusia yang bersifat hirarkis dan multi facet.

Francoys Gagné adalah ahli psikologi pendidikan (kini Professor Emeritus) dari Universitas Quebec di Montreal, Kanada. Menurutnya istilah gifted dan talents adalah dua hal yang berbeda. Dalam konsepsi Gagne, istilah Gifted lebih merujuk pada kepemilikan Potensi Istimewa di dalam satu atau lebih domain kemampuan. Sedangkan Talents adalah Prestasi Istimewa yang dalam hal ini merupakan bentuk tampilan langsung dari potensi istimewa tersebut yang merupakan hasil dari proses belajar, baik yang bersifat formal maupun informal. (Sumiharso;Center for Giftedness and Intellegence Studies)

Ciri dan Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus Tuna Grahita

Health Inspiration Medical

Banyak terminologi yang digunakan menyebut mereka yang kondisi kecerdasannya dibawah rata-rata. Dalam Bahasa Indonesia, istilah yang pernah digunakan, misalnya lemah otak, lemah ingatan, lemah pikiran, retardasi mental, terbelakang mental, cacat grahita, dan tunagrahita.

Jadi tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan atau kelainan dalam hal kemampuan intelengensi yang berada dibawah rata-rata normal.

Klasifikasi Tunagrahita

Pengklasifikasian anak tunagrahita penting dilakukan untuk mempermudah guru dalam menyusun program dan melaksanakan layanan pendidikan. Penting untuk memahami bahwa pada anak tunagrahita terdapat perbedaan individual yang variasinya sangat besar.

Pengklasifikasian ini pun bermacam-macam sesuai dengan disiplin ilmu maupun perubahan pandangan terhadap keberadaan anak tunagrahita. Klasifikasi anak tunagrahita yang telah lama dikenal adalah debil ( IQ 50-75), imbecile( IQ 25-50), dan idiot (IQ 0-25). Sedangkan klasifikasi yang dilakukan oleh kaum pendidik di Amerika adalah educable mentally retarded (mampu didik), trainable mentally retarded (mampu latih) dan totally/custodial dependent (mampu rawat).

Selain klasifikasi diatas ada pula pengelompokan berdasarkan kelainan jasmani yang disebut tipe klinik. Tipe-tipe klinik yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a) Down syndrome (Mongoloid)

Anak Tunagrahita jenis ini disebut demikian karena memiliki raut muka menyerupai orang mongol dengan mata sipit dan miring, lidah tebal suka menjulur keluar, telinga kecil, kulit kasar, susunan gigi kurang baik

b) Kretin (Cebol)

Anak ini memperlihatkan ciri-ciri, seperti badan gemuk dan pendek, kaki dan tangan pendek dan bengkok, kulit kering, tebal, dan keriput, rambut kering, lidah dan bibir, kelopak mata, telapak tangan dan kaki tebal, pertumbuhan gigi terlambat

c) Hydroceptal

Anak ini memiliki cirri-ciri kepala besar, raut muka kecil, pandangan dan pendengaran tidak sempurna, mata kadang-kadang juling.

d) Microcepal

Anak ini memiliki ukuran kepala yang kecil

Karakteristik anak tunagrahita

Karakteristik anak tunagrahita dapat dibagi secara umum dan khusus. Secara umum karakteristik anak tunagrahita dapat ditinjau dari segi akademik, sosial emosional, fisik/kesehatan.

a.Akademik

Kapasitas belajar anak tunagrahita sangat terbatas, lebih-lebih kapasitasnya mengenai hal-hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan membeo (rote learning) dari pada dengan pengertian. Dari hari kehari mereka membuat kesalahan yang sama. Mereka cenderung menghindar dari perbuatan berpikir. Mereka mengalami kesukaran memusatkan perhatian, dan lapangan minatnya sedikit. Mereka juga cenderung cepat lupa, sukar membuat kreasi baru, serta rentang perhatiannya pendek.

b.Sosial/emosional

Dalam pergaulan anak tunagrahita tidak dapat mengurus diri, memelihara dan memimpin diri. Ketika masih muda mereka harus dibantu terus karena mereka mudah terperosok kedalam tingkah laku yang kurang baik. Mereka cenderung bergaul atau bermain bersama dengan anak yang lebih muda darinya.

Kehidupan penghayatanya terbatas. Mereka juga tidak mampu tidak mampu menyatakan rasa bangga dan kagum. Mereka mempunyai kepribadian yang kurang dinamis, mudah goyah, kurang menawan, dan tidak berpandangan luas. Mereka juga mudah disugesti atau dipengaruhi sehingga tidak jarang dari mereka mudah terperosok kehal-hal yang tidak baik, seperti mencuri, merusak, dan pelanggaran seksual.

Namun dibalik itu semua mereka menunjukkan ketekunan dan rasa empati yang baik asalkan mereka mendapatkan layanan atau perlakuan yang kondusif.

c.Fisik/kesehatan

Baik struktur maupun fungsi tubuh pada umumnya anak tunagrahita kurang dari anak normal. Mereka baru dapat berjalan dan berbicara pada usia yang lebih tua dari anak normal. Bagi anak tunagrahita yang berat dan sangat berat kurang merasakan sakit, bau badan tidak enak, badannya tidak segar tenaganya kurang mempunyai daya tahan dan banyak yang meninggal pada usia muda . Mereka mudah terserang penyakit keterbatasan memelihara diri serta tidak memahami cara hidup sehat.

Adapun secara khusus karakteristik anak tunagrahita dapat digolongkan menurut tingkat ketunagrahitaanya.

d.Karakteristik tunagrahita ringan

Tunagrahita ringan disebut juga moron atau debil. Kelompok ini memiliki IQ antara 68-52 menurut skala Binet, sedangakan menurut skala Weschler (WISC) memiliki IQ 69-55. Mereka masih mampu dididik dan dikembangkan dalam hal: membaca, menulis, mengeja, dan berhitung, menyesuaikan diri dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain.

Meskipun tidak dapat menyamai anak normal seusia dengannya, mereka masih dapat belajar membaca, menulis dan berhitung sederhana. Pada usia 16 tahun atau lebih mereka dapat mempelajari bahan yang tingkat kesukarannya sama dengan kelas 3 dan kelas 5 SD. Kematangan belajar membaca baru dicapai pada umur 9 tahun dan 12 tahun sesuai dengan kecepatan berat dan ringannya kelainan. Mereka dapat bergaul dan mempelajari pekerjaan yang hanya memerlukan semi skilled. Sesudah dewasa banyak diantara mereka yang mampu berdiri sendiri. Pada usia dewasa kecerdasannya mencapai tingkat usia anak normal 9 dan 12 tahun.

e.Karakteristik anak Tunagrahita sedang

Anak tunagrahita sedang atau (imbesil). Kelompok ini memiliki IQ 51-36 pada skala Binet dan 54-40 menurut skala Weschler (WISC), hampir tidak bisa mempelajari pelajaran-pelajaran akademik. Perkembangan bahasanya lebih terbatas dari pada anak tunagrahita ringan. Mereka dapat berkomunikasi dengan beberapa kata. Mereka dapat membaca dan menulis, seperti namanya sendiri, alamatnya, nama orang tuanya, dan lain-lain. Mereka mengenal angka-angka tanpa pengertian. Namun demikian, mereka masih memiliki potensi untuk mengurus diri sendiri. Mereka dapat dilatih untuk mengerjakan sesuatu secara rutin, dapat dilatih berkawan, mengikuti dan menghargai hak milik orang lain.

f.Karakteristik anak tunagrahita berat dan sangat berat

Anak tunagrahita berat dan sangat berat (idiot) kelompok ini menurut skala Binet memiliki IQ antara 32-20 dan menurut skala weschler (WISC) adalah 39-25, hidupnya akan selalu tergantung pada pertolongan dan bantuan orang lain. Mereka tidak dapat memelihara diri sendiri (makanan, berpakaian, ke WC, dan sebagainya harus dibantu). Mereka tidak dapat membedakan bahaya dan bukan bahaya. Ia juga tidak dapat bicara kalaupun bicara hanya mampu mengucapkan kata-kata atau tanda sederhana saja. Kecerdasannya walaupun mencapai usisa dewasa berkisar seperti anak normal usia paling tinggi 4 tahun. Untuk menjaga kestabilan fisik dan kesehatannya mereka perlu diberikan kegiatan yang bermanfaatnya, seperti mengampelas memindahkan benda, mengisi karung dengan beras sampai penuh.