Memahami Keberbakatan Istimewa

Memahami Keberbakatan Istimewa

Health Medical

Benar bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia memiliki keunikan dan membawa beragam potensi sebagai anugerah dari Sang Penciptanya. Berbagai keunikan dan potensi inilah yang kemudian membedakannya dengan anak-anak lain. Tak ada satu anakpun yang memiliki kesamaan dalam segala aspeknya dengan anak lainnya. Namun jika dikatakan bahwa setiap anak adalah anak Gifted (anak yang memiliki bakat istimewa) maka hal itu adalah suatu klaim yang jauh dari kebenaran dan realitas sesungguhnya. Gifted atau keberbakatan istimewa adalah suatu istilah yang merujuk pada adanya satu atau beberapa potensi yang dimiliki oleh seorang anak/individu yang sifatnya diluar keumuman (extra ordinary), perkecualian (exceptional), dan di luar norma (beyond the norm) dalam hal kemampuan atau potensi bawaan.

Batasan tentang istilah keberbakatan istimewa (Giftedness)

Sampai saat ini tidak ada batasan tunggal yang merepresentasikan arti istilah gifted. Halmana karena memang tidaklah mudah untuk memberi batasan atas suatu fenomena yang kompleks seperti giftedness ini. Orang tua, guru, masyarakat, ahli, dan praktisi (khususnya di bidang psikologi dan pendidikan) pun juga memiliki beragam pemahaman atas apa yang dimaksud dengan keberbakatan istimewa (giftedness). Guna mempermudah pemahaman tentang makna istilah keberbakatan istimewa, berikut diuraikan secara singkat sejarah dan sudut pandang para ahli yang secara khusus melakukan studi dan penelitian tentang keberbakatan istimewa.

Asal muasal istilah Gifted

Di tataran publik istilah gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton (saudara sepupu pencetus teori evolusi Charles Darwin) pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu lebih mengacu pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Titik tekan konsepsi keberbakatan istimewa menurut Galton ada pada berbagai bidang. Ia memberi contoh seperti ahli kimia Madame Curie sebagai gifted chemist (ahli kimia dengan bakat luar biasa atau istimewa). Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children.
Dalam perkembangannya, Lewis B.Terman, seorang ahli psikologi dan psikometri dari Universitas Standford di Amerika Serikat memperluas pandangan Galton tentang keberbakatan istimewa menjadi termasuk juga di dalamnya individu-individu dengan kapasitas kognitif atau intelektual yang sangat tinggi. Sebagai perumus dan originator tes intelegensi Stanford Binet, Lewis Terman benar-benar terobsesi dengan fenomena anak-anak gifted ini. Di awal tahun 1900-an ia bersama koleganya di Universitas Stanford mulai melakukan penelitian panjang tentang anak-anak gifted. Dari hasil studinya ini Terman kemudian merumuskan konsepsinya tentang arti keberbakatan istimewa atau giftedness. Ia memberikan batasan bahwa anak-anak Gifted adalah anak-anak yang memiliki kapasitas kognitif sebagaimana terukur dengan tes intelegensi Stanford Binet, berada pada kisaran skor IQ di atas 140.

Berdasarkan penelitiannya Terman juga meyakini bahwa meski anak-anak gifted ini di kemudian hari pada umumnya sukses sebagai orang-orang dewasa di berbagai bidang profesi, tetapi kesuksesan mereka tersebut tak semata disebabkan oleh karena kapasitas kognitif mereka yang sangat tinggi tetapi juga disumbangkan oleh faktor-faktor non kognitif yang mereka miliki seperti semangat, motivasi, komitmen, ketekunan, dan keberanian mengambil risiko.

Pada tahun 1926 Leta Hollingworth, seorang ahli psikologi pendidikan Amerika Serikat, merilis bukunya yang dikemudian hari menjadi salah satu buku legendaris dalam khazanah literatur tentang keberbakatan istimewa yang bertajuk âGifted Children : Their Nature and Nurture❠. Dalam buku ini ia mengemukakan pendapatnya bahwa meski potensi keberbakatan istimewa adalah sesuatu yang sifatnya menurun tetapi tanpa adanya pola pengasuhan dan ketersediaan lingkungan yang mendukung maka potensi keberbakatan istimewa tersebut hanya akan tinggal potensi, tak akan pernah teraktualisasi. Oleh karena itu pada periode 1930-an ia tampil menjadi penganjur utama tentang perlunya bagi orang tua memberikan pola asuh dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak dengan bakat istimewa agar dapat mengaktualisasikan potensinya. Karena masifnya kampanye yang dilakukan oleh Leta Hollingworth inilah maka sejak saat itu istilah gifted selalu dipergunakan orang untuk merujuk pada potensi yang sangat tinggi yang dimiliki oleh seorang anak atau individu.

Pada dekade 1970-an, Jozeph Renzulli dari Universitas Connecticut mengajukan konsepsinya tentang keberbakatan isitmewa dalam teorinya yang terkenal kemudian sebagai The Three Rings of Giftedness. Pokok konsepsi dari teori Renzulli ini adalah keberbakatan istimewa baru akan dapat muncul dan teraktualisasikan jika terdapat 3 traits (sifat) utama yang terdapat atau muncul pada diri seorang individu. Ke-3 traits itersebut adalah :

  1. Potensi kognitif atau kapasitas intelektual yang berada pada kisaran di atas rata-rata (High Potential Ability).
  2. Dorongan atau motivasi yang kuat untuk meraih tujuan (task commitment).
  3. Kreatifitas (creativity).

Menurut Renzulli selama ketiga traits tersebut tidak dapat ditunjukkan (dimiliki) oleh seorang anak atau individu maka maka belumlah dapat disebut sebagai anak atau individu dengan bakat istimewa (gifted child). Renzulli memberi contoh bahwa Albert Einstein adalah prototipe yang sangat tepat bagi individu dengan bakat istimewa (gifted). Selain memiliki kapasitas intelektual yang sangat tinggi, Einstein juga dikenal sebagai individu yang sangat memiliki motivasi tinggi untuk meraih apa yang dia inginkan. Selain itu sifat kreatifnya juga sangat kental tatkala ia merumuskan teori relatifitasnya yang sangat terkenal (dimana pada saat itu tak banyak orang yang menyetujuinya). Di sini nampak jelas Einstein sebagai seorang jenius yang punya imajinasi dan kreatifitas diluar keumuman.

Ahli psikologi perkembangan dan psikometri kontemporer dari Amerika Serikat Linda K. Silverman juga mengajukan konsepsi tentang keberbakatan istimewa. Konsepsi yang diajukannya agak berbeda dengan ahli-ahli sebelumnya. Dalam konsepsinya yang terkenal dengan teori Asynchronous Development (perkembangan yang tidak serasi), ia menyebutkan bahwa dimensi terpenting dari adanya keberbakatan istimewa adalah adanya fenomena tumbuh kembang yang tidak serasi dalam diri seorang anak atau individu. Perbedaan utama konsepsi yang diajukan oleh Linda Silverman dengan ahli-ahli sebelumnya adalah jika ahli-ahli sebelumnya hanya melihat keberbakatan istimewa dari sudut pandang bakat atau potensi yang sangat tinggi (istimewa) yang ditunjukkan atau dimiliki oleh seorang anak atau individu, maka Linda Silverman menambahkan satu aspek lain yang sangat penting yaitu aspek emosi. Jadi selain dilihat dari sudut pandang potensi yang sangat tinggi (istimewa) yang dimiliki oleh seorang anak atau individu maka pola perkembangan anak atau individu dari aspek intelegensi, emosi, dan fisik juga sangat perlu mendapat perhatian khusus. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya ia menyebutkan bahwa ternyata pola perkembangan anak atau individu yang memiliki bakat istimewa (gifted) jauh berbeda dengan pola perkembangan anak-anak normal, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Lebih jauh konsepsi Linda Silverman ini kemudian dikembangkan oleh sekelompok orang tua, peneliti, ahli psikologi, dan pendidik yang tergabung dalam kelompok yang menamakan dirinya sebagai the Columbus Group. Menurut mereka batasan atau definisi keberbakatan istimewa adalah :

â Giftedness atau keberbakatan istimewa adalah suatu pola perkembangan yang tidak sinkron (tidak serasi; asynchronous development ) pada individu-individu tertentu, dimana didalamnya terkombinasi suatu tingkat kemampuan kognitif yang sangat maju yang disertai dengan intensitas emosi (kedalaman perasaan; emotional intensity) yang sangat kuat, yang pada akhirnya menciptakan suatu pola pengalaman dan kesadaran dalam diri individu-individu tersebut yang secara kualitatif sangat berbeda dengan anak-anak lain yang seusianya. Ketidakserasian ini akan semakin meningkat dengan semakin tingginya kapasitas intelektual yang mereka miliki. Keunikan seperti inilah yang pada akhirnya mempersyaratkan adanya suatu pola pengasuhan, pengajaran, dan pembimbingan yang khusus agar proses tumbuh kembang mereka dapat berjalan dengan optimal ❠(The Columbus Group, 1991)

Selain batasan sebagaimana diuraikan di atas juga terdapat batasan yang merujuk pada tampilan (performance) akademik yang ditunjukkan oleh seorang anak selama di sekolah. Menurut definisi ini anak-anak berbakat istimewa (gifted) adalah anak-anak yang berada pada kisaran 5%-10% teratas dilihat dari prestasi akademik yang mereka tunjukkan di sekolah. Mengacu pada definisi ini maka anak-anak yang tergolong berbakat istimewa perlu mendapatkan materi belajar dan model pembelajaran yang lebih menantang yang berbeda dengan teman-temannya. Definisi ini meski mudah dalam aplikasinya (khususnya dari aspek identifikasi) tetapi sangat kurang mendapatkan dukungan dari para ahli psikologi, khususnya karena terlalu menekankan pada aspek prestasi namun kurang mempertimbangkan aspek kepribadian dan tumbuh kembang dari anak-anak berbakat istimewa. Selain itu dalam aplikasinya standar kriteria 5%-10% teratas dalam ranah prestasi akademis juga masih diperdebatkan, khususnya dalam hal instrumen apa yang dipergunakan untuk mengukurnya.

Definisi paling mutakhir yang kini menjadi arus utama (mainstream) dan banyak disepakati oleh para ahli, baik dalam ranah psikologi maupun pendidikan adalah teori Gagne yang (terakhir) diperbaharui pada tahun 2008. Teori Gagne ini pada dasarnya menitikberatkan konsepsi keberbakatan istimewa sebagai sesuatu yang merupakan hasil interaksi antara faktor keturunan (genetic) dan faktor tumbuh kembang (developmental) yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

Di samping itu salah satu pokok konsepsi keberbakatan istimewa dalam teori Gagne ini adalah keberbakatan istimewa pada prinsipnya bersifat multi domain. Konsepsi inilah yang membedakan secara eksplisit antara teori Gagne dengan teori lain yang cenderung bertumpu pada konsepsi keberbakatan istimewa sebagai semata keberbakatan dalam domain intelektual. Di samping itu teori Gagne juga mendapatkan basis ilmiah yang kuat karena sejalan dengan teori intelegensi paling mutakhir yaitu teori Cattel-Horn-Carrol (2003) yang menyebutkan bahwa kecerdasan sebagai konstelasi kemampuan manusia yang bersifat hirarkis dan multi facet.

Francoys Gagné adalah ahli psikologi pendidikan (kini Professor Emeritus) dari Universitas Quebec di Montreal, Kanada. Menurutnya istilah gifted dan talents adalah dua hal yang berbeda. Dalam konsepsi Gagne, istilah Gifted lebih merujuk pada kepemilikan Potensi Istimewa di dalam satu atau lebih domain kemampuan. Sedangkan Talents adalah Prestasi Istimewa yang dalam hal ini merupakan bentuk tampilan langsung dari potensi istimewa tersebut yang merupakan hasil dari proses belajar, baik yang bersifat formal maupun informal. (Sumiharso;Center for Giftedness and Intellegence Studies)

KARAKTERISTIK ANAK TUNARUNGU

KARAKTERISTIK ANAK TUNARUNGU

Health Inspiration Medical

Jika kita membahas tentang karakteristik anak tuna rungu, akan lebih mudah untuk memahami jika kita memulai dari pengertian tuna rungu. Yang dimaksud dengan tuna rungu adalah sebuah kondisi dimana seseorang kehilangan kemampuan pendengarannya sehingga tidak mampu untuk menangkap hampir semua rangsangan melalui indra pendengarannya.

Dalam banyak hal, orang kebanyakan seringkali salah memahami bahwa yang termasuk dalam tuna rungu terbatas pada mereka yang kehilangan kemampuan pendengarannya secara total, padahal yang termasuk tuna rungu adalah mereka yang juga mengalami kelainan pada indra pendengaran.

Tuna rungu selalu diiringi dengan gangguan wicara, hal ini disebabkan ketika seseorang tidak mendengar, maka tidak ada konsep informasi yang masuk ke otak tentang konsep kata dan kalimat. Ketika otak tidak memiliki rekaman kata-kata maka tidak bisa mengeluarkan konsep tersebut.

Secara umum karakteristik anak tuna rungu dibagi menjadi 4, yaitu:

Karakteristik berdasarkan bicara dan bahasa

Anak tuna rungu adalah seseorang yang mengalami hambatan bicara sehingga membutuhkan latihan atau pembelajaran secara khusus. Bagi orang awam bicara dengan anak tuna rungu seringkali merupakan hal yang sulit. Semakin lama berinteraksi dengan anak tuna rungu maka kita akan terbiasa dan semakin mudah untuk memahami bahasa mereka.

Karakteristik berdasarkan kondisi fisik/kesehatannya

Karakteristik yang menonjol dari aspek fisik pada anak tuna rungu adalah gerakan tangannya yang cepat. Hal ini disebabkan karena tangan digunakan sebagai alat bantu komunikasi. Ciri yang kedua adalah pada bentuk badannya yang membungkuk. Anak tuna rungu seringkali juga mengalami gangguan pada keseimbangan tubuhnya. Membungkuk adalah salah satu yang digunakan untuk menjaga keseimbangannya.

Karakteristik berdasarkan akademis

Secara umum karakteristik anak tuna rungu berdasarkan akademik sama dengan anak lain pada umumnya. Intelegensi pada anak tuna rungu juga terbagi menjadi 3 bagian tinggi, sedang dan rendah. Anak tuna rungu sering mengalami hambatan pada mata pelajaran verbal karena keterbatasannya dalam berbahasa. Namun demikian untuk mata pelajaran non verbal pada umumnya mereka lebih mampu untuk mengatasi permasalahan akademik.

Karakteristik dalam aspek social dan emosinya

Anak tuna rungu dalam banyak hal juga sering dijauhi oleh teman-temannya bahkan juga oleh sesame penyandang disabilitas yang lain non rungu wicara. Hal ini disebabkan oleh sulitnya komunikasi dengan mereka. Hal ini mengakibatkan besarnya ketergantungan pada orang lain dan adanya ketakuatn untuk memasuki lingkungan yang lebih luas.

Perhatian anak tuna rungu lebih sulit untuk dialihkan namun hal ini dapat membawa pengaruh positif terutama ketika mereka mulai memasuki lingkungan kerja karena tingginya kemampuan mereka untuk focus dalam pekerjaan. Karena keterbatasannya dalam komunikasi, anak tuna rungu juga mempunyai lingkungan pergaulan yang terbatas. Hal ini menyebabkan tingginya sifat egosentris mereka dan mempunyai kepribadian yang polos dan tidak banyak nuansa bahkan pada kondisi perasaan yang ekstrim.Hal-hal diatas adalah hal yang menjadi karakteristik dasar anak tuna rungu. Semoga melalui artikel ini dapat membantu kita untuk mengenali, mengerti dan membantu interaksi kita dengan penderita tuna rungu.

Masalah Kekinian Pada Anak, Namun Tidak Disadari

Masalah Kekinian Pada Anak, Namun Tidak Disadari

Health Medical

Siapkah Anda kehilangan kebersamaan, hubungan yang harmonis dan kasih sayang dengan keluarga Anda karena Kecanduan dunia Game, Internet dan Gadget? Apakah Anda mengetahui bahwa Anda atau anak Anda telah mengalami kecanduan gadget atau alat elektronik lainnya?Cyber addict atau kecanduan game, internet, gadget dan sarana eletronik lainnya yang berhubungan dengan dunia maya menjadi hal yang mengkhawatirkan beberapa tahun belakangan ini, kecanduan cyber ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa tetapi juga pada anak dan remaja. Kecanduan cyber membuat seseorang cenderung anti sosial, sulit berkonsentrasi, dan berbagai dampak buruk lainnya. Selain itu banyak sekali kasus kejahatan seksual dan penculikan yang terjadi karena tidak adanya pengetahuan tentang dunia maya dengan baik.Pada negara lain kecanduan dunia maya telah dikategorikan menjadi menjadi clinical disease atau penyakit kejiwaan klinis yang disetarakan dengan kecanduan narkoba. Di luar negeri, para pemerintahnya mulai fokus mendirikan pusat-pusat rehabilitasi untuk orang-orang yang terjangkit kecanduan internet. Banyak kasus kencanduan internet yang mempunya dampak yang sangat parah, dimulai dari anak-anak yang berhenti sekolah, sampai pada orang dewasa yang meninggalkan pekerjaan. Di negara Cina telah terindikasi sekitar 24 juta anak remaja menjadi pecandu internet atau mereka sebut web junkie. Anak-anak ini hanya bermain game online setiap harinya. Mereka bisa tahan tidak tidur selama 3 hari dan memakai popok dewasa hanya untuk bermain game. Dan bahkan yang paling parah seorang remaja di cina sampai memotong tangannya sendiri hingga putus karena ingin berhenti bermain game.Di Indonesia sendiri KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) sudah mulai membuka layanan pengaduan anak yang kecanduan gadget karena sudah banyak laporan mengenai kecanduan gadget pada anak. Pada umumnya orang tua atau pelapor mengeluhkan kondisi anak yang susah dihentikan ketika sudah memegang gadget. Beberapa kasus yang terjadi adalah anak yang seringkali menawar untuk bermain lagi beberapa saat, padahal sudah membuat komitmen dengan orang tuanya sebelumnya. Ada juga anak yang marah kalau diberitahu untuk berhenti bermain gadget.Kecanduan gadget pada anak dapat menimbulkan dampak negatif pada berbagai perkembangan anak, antara lain :

1. Perkembangan Fisik

· Aktivitas gerak berkurang mengakibatkan obesitas, ketidakseimbangan hormonal dan metabolisme menyebabkan anak rentan terhadap penyakit· Gangguan pada mata, seperti kelelahan mata dan penglihatan kabur.· Gangguan pada fisik lainnya, seperti nyeri kepal, punggung bungkuk dan nyeri.

2. Perkembangan Sosial dan Emosional

· Anak menjadi tertutup, kurang bergaul, sulit bersosialisasi, dan tidak mampu berinteraksi sosial· Tidak percaya diri, mudah takut dan cemas.· Mudah berbohong· Cepat marah· Dimanfaatkan oleh orang / pengguna internet lainnya : Cyber-Bullying, Cyber Stalking yang berpotensi terjadinya penculikan· Penurunan Konsentrasi· Meningkatkan Rasa malas

3. Perkembangan Moral

· Anak Dewasa sebelum waktunya· Penyimpangan moral akibat mengonsumsi hal-hal berbau pornografi, kekerasan dan kriminal.Biasanya dampak negatif ini terjadi apabila anak sudah mulai diindikasikan kecanduan gadget. Namun para orang tua sebaiknya waspada dalam mengenali tanda-tanda awal di mana anak mulai ke arah kecanduan gadget, seperti :

1. Anak mulai bermain Gadget terus-terusan, bahkan bisa lebih dari 6 jam

2. Jam tidur anak semakin sedikit karena ingin bermain gadget

3. Anak mulai tidak bisa jauh dari gadget. Apabila ditanyakan keinginannya selalu mengarah pada keinginan untuk bermain gadget,misal selalu ingin cepat pulang karena ingin bermain gadget.

4. Mulai muncul masalh mata, seperti mata lelah, sering berkedip, mata merah, dan penglihatan kabur

5. Sering lupa atau terlambat dalam melakukan aktivitas lain

6. Anak cenderung marah atau menangis bila diingatkan atau gadgetnya diambil

7. Anak cenderung mulai menampilkan perilaku antisosial, tidak peduli dengan keadaan sekitar, tidak peduli pada orang lai, tidak peduli dengan kewajiban dan rutinitas yang harus dilakukan.Apabila Anak Anda ingin menghentikan Kecanduan Gadget silakan Konsultasikan pada kami.

Ciri dan Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus Tuna Grahita

Health Inspiration Medical

Banyak terminologi yang digunakan menyebut mereka yang kondisi kecerdasannya dibawah rata-rata. Dalam Bahasa Indonesia, istilah yang pernah digunakan, misalnya lemah otak, lemah ingatan, lemah pikiran, retardasi mental, terbelakang mental, cacat grahita, dan tunagrahita.

Jadi tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan atau kelainan dalam hal kemampuan intelengensi yang berada dibawah rata-rata normal.

Klasifikasi Tunagrahita

Pengklasifikasian anak tunagrahita penting dilakukan untuk mempermudah guru dalam menyusun program dan melaksanakan layanan pendidikan. Penting untuk memahami bahwa pada anak tunagrahita terdapat perbedaan individual yang variasinya sangat besar.

Pengklasifikasian ini pun bermacam-macam sesuai dengan disiplin ilmu maupun perubahan pandangan terhadap keberadaan anak tunagrahita. Klasifikasi anak tunagrahita yang telah lama dikenal adalah debil ( IQ 50-75), imbecile( IQ 25-50), dan idiot (IQ 0-25). Sedangkan klasifikasi yang dilakukan oleh kaum pendidik di Amerika adalah educable mentally retarded (mampu didik), trainable mentally retarded (mampu latih) dan totally/custodial dependent (mampu rawat).

Selain klasifikasi diatas ada pula pengelompokan berdasarkan kelainan jasmani yang disebut tipe klinik. Tipe-tipe klinik yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a) Down syndrome (Mongoloid)

Anak Tunagrahita jenis ini disebut demikian karena memiliki raut muka menyerupai orang mongol dengan mata sipit dan miring, lidah tebal suka menjulur keluar, telinga kecil, kulit kasar, susunan gigi kurang baik

b) Kretin (Cebol)

Anak ini memperlihatkan ciri-ciri, seperti badan gemuk dan pendek, kaki dan tangan pendek dan bengkok, kulit kering, tebal, dan keriput, rambut kering, lidah dan bibir, kelopak mata, telapak tangan dan kaki tebal, pertumbuhan gigi terlambat

c) Hydroceptal

Anak ini memiliki cirri-ciri kepala besar, raut muka kecil, pandangan dan pendengaran tidak sempurna, mata kadang-kadang juling.

d) Microcepal

Anak ini memiliki ukuran kepala yang kecil

Karakteristik anak tunagrahita

Karakteristik anak tunagrahita dapat dibagi secara umum dan khusus. Secara umum karakteristik anak tunagrahita dapat ditinjau dari segi akademik, sosial emosional, fisik/kesehatan.

a.Akademik

Kapasitas belajar anak tunagrahita sangat terbatas, lebih-lebih kapasitasnya mengenai hal-hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan membeo (rote learning) dari pada dengan pengertian. Dari hari kehari mereka membuat kesalahan yang sama. Mereka cenderung menghindar dari perbuatan berpikir. Mereka mengalami kesukaran memusatkan perhatian, dan lapangan minatnya sedikit. Mereka juga cenderung cepat lupa, sukar membuat kreasi baru, serta rentang perhatiannya pendek.

b.Sosial/emosional

Dalam pergaulan anak tunagrahita tidak dapat mengurus diri, memelihara dan memimpin diri. Ketika masih muda mereka harus dibantu terus karena mereka mudah terperosok kedalam tingkah laku yang kurang baik. Mereka cenderung bergaul atau bermain bersama dengan anak yang lebih muda darinya.

Kehidupan penghayatanya terbatas. Mereka juga tidak mampu tidak mampu menyatakan rasa bangga dan kagum. Mereka mempunyai kepribadian yang kurang dinamis, mudah goyah, kurang menawan, dan tidak berpandangan luas. Mereka juga mudah disugesti atau dipengaruhi sehingga tidak jarang dari mereka mudah terperosok kehal-hal yang tidak baik, seperti mencuri, merusak, dan pelanggaran seksual.

Namun dibalik itu semua mereka menunjukkan ketekunan dan rasa empati yang baik asalkan mereka mendapatkan layanan atau perlakuan yang kondusif.

c.Fisik/kesehatan

Baik struktur maupun fungsi tubuh pada umumnya anak tunagrahita kurang dari anak normal. Mereka baru dapat berjalan dan berbicara pada usia yang lebih tua dari anak normal. Bagi anak tunagrahita yang berat dan sangat berat kurang merasakan sakit, bau badan tidak enak, badannya tidak segar tenaganya kurang mempunyai daya tahan dan banyak yang meninggal pada usia muda . Mereka mudah terserang penyakit keterbatasan memelihara diri serta tidak memahami cara hidup sehat.

Adapun secara khusus karakteristik anak tunagrahita dapat digolongkan menurut tingkat ketunagrahitaanya.

d.Karakteristik tunagrahita ringan

Tunagrahita ringan disebut juga moron atau debil. Kelompok ini memiliki IQ antara 68-52 menurut skala Binet, sedangakan menurut skala Weschler (WISC) memiliki IQ 69-55. Mereka masih mampu dididik dan dikembangkan dalam hal: membaca, menulis, mengeja, dan berhitung, menyesuaikan diri dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain.

Meskipun tidak dapat menyamai anak normal seusia dengannya, mereka masih dapat belajar membaca, menulis dan berhitung sederhana. Pada usia 16 tahun atau lebih mereka dapat mempelajari bahan yang tingkat kesukarannya sama dengan kelas 3 dan kelas 5 SD. Kematangan belajar membaca baru dicapai pada umur 9 tahun dan 12 tahun sesuai dengan kecepatan berat dan ringannya kelainan. Mereka dapat bergaul dan mempelajari pekerjaan yang hanya memerlukan semi skilled. Sesudah dewasa banyak diantara mereka yang mampu berdiri sendiri. Pada usia dewasa kecerdasannya mencapai tingkat usia anak normal 9 dan 12 tahun.

e.Karakteristik anak Tunagrahita sedang

Anak tunagrahita sedang atau (imbesil). Kelompok ini memiliki IQ 51-36 pada skala Binet dan 54-40 menurut skala Weschler (WISC), hampir tidak bisa mempelajari pelajaran-pelajaran akademik. Perkembangan bahasanya lebih terbatas dari pada anak tunagrahita ringan. Mereka dapat berkomunikasi dengan beberapa kata. Mereka dapat membaca dan menulis, seperti namanya sendiri, alamatnya, nama orang tuanya, dan lain-lain. Mereka mengenal angka-angka tanpa pengertian. Namun demikian, mereka masih memiliki potensi untuk mengurus diri sendiri. Mereka dapat dilatih untuk mengerjakan sesuatu secara rutin, dapat dilatih berkawan, mengikuti dan menghargai hak milik orang lain.

f.Karakteristik anak tunagrahita berat dan sangat berat

Anak tunagrahita berat dan sangat berat (idiot) kelompok ini menurut skala Binet memiliki IQ antara 32-20 dan menurut skala weschler (WISC) adalah 39-25, hidupnya akan selalu tergantung pada pertolongan dan bantuan orang lain. Mereka tidak dapat memelihara diri sendiri (makanan, berpakaian, ke WC, dan sebagainya harus dibantu). Mereka tidak dapat membedakan bahaya dan bukan bahaya. Ia juga tidak dapat bicara kalaupun bicara hanya mampu mengucapkan kata-kata atau tanda sederhana saja. Kecerdasannya walaupun mencapai usisa dewasa berkisar seperti anak normal usia paling tinggi 4 tahun. Untuk menjaga kestabilan fisik dan kesehatannya mereka perlu diberikan kegiatan yang bermanfaatnya, seperti mengampelas memindahkan benda, mengisi karung dengan beras sampai penuh.

Anak TERLAMBAT BICARA

Health Inspiration
Seorang anak perempuan berumur 20 bulan dibawa oleh ibunya ke Klinik Tumbuh Kembang. Ibunya merasa bahwa perkembangan bicara anaknya tidak seperti teman sebayanya. Anak belum bisa memanggil orang tuanya, dan bila dipanggil tidak menoleh.

“Apa yang harus Saya Lakukan ? “

Bahasa adalah suatu sistem komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan dan menerima pesan dari satu orang ke orang lain dengan menggunakan cara yang telah disepakati, baik verbal maupun non verbal, misalnya mimik muka, kontak mata, menunjuk, dan lain-lain. Kemampuan berbahasa adalah kemampuan seseorang untuk memahami, memproses dan memproduksi komunikasi.
Gangguan bicara dan bahasa merupakan salah satu masalah perkembangan yang sering terjadi pada anak. Di Amerika Serikat, 3-10 % anak prasekolah menderita keterlambatan bicara dan bahasa dan 40-60% berlanjut sampai usia sekolah. Hal ketidakmampuan ini berhubungan dengan resiko rendahnya prestasi belajar dan problem psikososial. Laki-laki 3-4 kali lebih sering mengalami gangguan bicara dibandingkan perempuan.
Perkembangan dari kemampuan berbicara dan bahasa merupakan indikator awal yang berguna untuk memprediksi perkembangan psikomotor dan kognisi. Adanya keterlambatan atau gangguan berbicara, dapat menjadi potensi untuk keterlambatan pada perkembangan anak lainnya. Deteksi dan intervensi dini anak dengan keterlambatan bicara dan bahasa dapat mencegah permasalahan emosi, sosial dan kognisi dan memperbaiki hasil perkembangan anak tersebut.
Seorang anak dianggap mengalami keterlambatan bicara bila perkembangan bicara anak tersebut secara bermakna berada di bawah kemampuan perkembangan anak seusianya. Perkembangan bicara sama seperti anak normal, hanya kecepatannya lebih lambat dibanding anak normal. Sedangkan anak dengan gangguan / penyimpangan bahasa atau bicara adalah anak dengan pola bahasa/ bicara tidak seperti anak normal, misalnya ekolalia (kata yang diulang-ulang) atau bahas “ planet” pada anak autisme. Masalah dalam bicara meliputi gagap (suttering), gangguan artikulasi, kesulitan dalam grammer (syntax), kata atau kosakata (sematics), produksi suara (fonologi), arti kata (morfologi), penggunaan bahasa dalam konteks sosial (pragmatik).
Ganguan bahasa dan bicara bisa terjadi bersama-sama bisa juga terjadi sendiri-sendiri. Banyak anak yang mengalami keterlambatan dan perkembangan bicara yang tidak terdiagnosis, karena masih kurangnya pemahaman terhadap konsep dasar dan milestone perkembangan bicara. Skrining perkembangan bicara dengan menggunakan instrumen yang telah tervalidasi dapat digunakan untuk mendeteksi adanya keterlambatan atau gangguan perkembangan bicara, sehingga intervensi dini dapat dilakukan.
Lambat bicara pada anak memang dapat menimbulkan kecemasan orangtua. Di sisi lain, terkadang anak dengan gangguan bicara dan bahasa tidak mendapat perhatian karena orangtua berpikir “Ah, tidak apa-apa, nanti juga bisa bicara” atau “Dia hanya terlambat mulai saja, nanti dia pasti akan mengejar.”
Untuk dapat mendeteksi dini keterlambatan bicara secara sederhana, tentunya orang tua perlu mengetahui tahapan bicara anak secara normal. Di bawah ini ada beberapa tanda sederhana untuk mengetahui apakah anak masih sesuai tahapan perkembangan bicaranya :

Bayi Usia 0-6 bulan

Saat lahir, bayi hanya dapat menangis untuk menyatakan keinginannya. Pada usia 2-3 bulan, bayi mulai dapat membuat suara-suara seperti aah atau uuh. Suara seperti ini dikenal dengan istilah cooing. Pada tahapan ini, bayi juga senang bereksperimen dengan berbagai bunyi yang dapat dihasilkannya, misalnya suara menyerupai berkumur. Bayi juga mulai bereaksi terhadap suara orang lain. Setelah berusia 3 bulan, bayi akan mulai belajar mencari sumber suara yang didengarnya dan menyukai mainan yang mengeluarkan suara.
Mendekati tahapan usia 6 bulan, bayi sudah mulai dapat memberikan respon terhadap panggilan namanya sendiri. Ia juga mulai mengenali emosi dan tekanan dalam nada bicara. Istilah Cooing berangsur berubah menjadi babbling, yakni mengoceh dengan suku kata tunggal, misalnya papapapapa, dadadadada, bababababa, mamamamama. Pada tahapan ini, bayi juga sudah mulai dapat mengatur nada bicaranya sesuai emosi yang dirasakannya beserta dengan ekspresi wajah yang sesuai.
Pada Tahapan ini, orang tua perlu waspada apabila : bayi tidak menoleh jika dipanggil namanya dari belakang, dan tidak ada babbling.

Usia 6-12 bulan

Pada tahapan usia 6-9 bulan, bayi mulai mengerti nama-nama orang dan benda- benda yang sering ditemuinya. Bayi juga mulai mengenal konsep-konsep dasar seperti iya,boleh, tidak, habis. Saat melakukan babbling, bayi menggunakan intonasi atau nada bicara seperti bahasa ibunya. Ia pun mulai dapat mengucapkan kata-kata sederhana seperti mama dan papa tanpa arti.
Pada tahapan usia 9-12 bulan, ia sudah mulai dapat mengucapkan mama dan papa (atau istilah lain yang biasa digunakan untuk ibu dan ayah atau pengasuh utama lainnya) sesuai dengan artinya. Bayi mulai mengerti untuk menengok apabila namanya dipanggil dan mengerti beberapa perintah sederhana, misal lihat itu, atau ayo ke sini. Pada tahapan ini, bayi mulai menggunakan isyarat untuk menyatakan keinginannya, misalnya menunjuk, merentangkan tangan ke atas untuk minta digendong, atau melambaikan tangan. Ia suka mulai suka membeo atau menirukan kata dan bunyi yang didengarnya. Pada usia 12 bulan bayi sudah mengerti sekitar 70 kata.
Pada Tahapan ini, orang tua perlu waspada apabila : bayi tidak menggunakan isyarat dengan tangannya, misal menunjuk dengan jari pada usia 12 bulan, atau ekspresi wajah saat berkomunikasi kurang terlihat.

Usia 12-18 bulan

Pada tahapan usia ini, anak sudah menginjak 1 tahun dan biasanya sudah dapat mengucapkan 3-6 kata dengan arti. Anak sudah dapat mengangguk atau menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan yag ditanyakan oleh orang tuanya. Anak sudah mulai dapat menunjuk anggota tubuh atau gambar yang disebutkan orang lain, dan mulai mengikuti perintah satu langkah (Tolong ambilkan mainan itu). Pada tahapan ini, kosa kata anak bertambah dengan pesat. Pada usia 15 bulan ia mungkin baru dapat mengucapkan 3-6 kata dengan arti, namun pada usia 18 bulan kosakatanya telah mencapai 5-50 kata. Pada akhir tahapam ini, anak sudah bisa menyatakan sebagian besar keinginannya dengan kata-kata.
Pada Tahapan ini, orang tua perlu waspada apabila : tidak ada kata yang berarti pada usia 16 bulan

Usia 18-24 bulan

Dalam kurun waktu ini anak mengalami lonjakan dalam berbahasa. Hampir setiap hari anak belajar kosakata baru. Ia mulai belajar dari siapapun orang di sekitarnya. Anak sudah dapat membuat kalimat yang terdiri atas dua kata (adek mandi, naik sepeda, mau mamam). Anak juga sudah dapat mengikuti perintah yang lebih panjang. Pada fase ini anak akan senang mendengarkan cerita. Pada tahapan usia dua tahun, sekitar 50% bicaranya dapat dimengerti orang lain.
Pada Tahapan ini, orang tua perlu waspada apabila : Tidak ada kalimat yang dapat dimengerti pada usia 24 bulan

Usia 2-3 tahun

Setelah usia 2 tahun, hampir semua kata yang diucapkan anak telah dapat dimengerti oleh orang lain. Anak sudah biasa menggunakan kalimat dengan 2-3 kata. Saat anak mendekati usia 3 tahun anak sudah dapat menggunakan kalimat dengan 3 kata atau lebih. Dan lebih jauh lagi, ia mulai dapat menggunakan kalimat tanya. Ia mulai dapat menyebutkan nama dan kegunaan benda-benda yang sering ditemui. Anak sudah mulai mengenal warna, dan mulai senang bernyanyi lagu pendek atau bersajak
Pada Tahapan ini, orang tua perlu waspada apabila : Anak belum bisa mengatakan dengan jelas keinginannya.

Usia 3-5 tahun

Tahapan anak pada usia ini mulai tertarik mendengarkan cerita dan percakapan orang di sekitarnya. Ia sudah dapat menyebutkan nama, umur, dan jenis kelaminnya, serta menggunakan kalimat-kalimat panjang (>4 kata) saat berbicara. Pada usia 4 tahun, bicaranya sepenuhnya sudah dapat dimengerti oleh orang lain. Anak sudah dapat menceritakan dengan lancar dan cukup rinci tentang hal-hal yang dialaminya.
Pada Tahapan ini, orang tua perlu waspada apabila : kalimat-kalimat anak belum dapat dimengerti sepenuhnya.
Apabila terdapat salah satu tanda waspada di atas, periksakanlah anak Anda ke dokter atau pada ahli tumbuh kembang anak. Secara umum, pada usia berapapun, bawalah anak untuk diperiksakan jika ia menunjukkan kemunduran dalam kemampuan berbicara atau kemampuan bersosialisasinya.
Penyebab keterlambatan bicara
Keterlambatan bicara dapat disebabkan gangguan pendengaran, gangguan pada otak (misalnya retardasi mental, gangguan bahasa spesifik reseptif dan/atau ekspresif), autisme, atau gangguan pada organ mulut yang menyebabkan anak sulit melafalkan kata-kata (dikenal sebagai gangguan artikulasi). Untuk menegakkan diagnosis penyebab keterlambatan bicara, perlu pemeriksaan yang teliti oleh dokter, yang terkadang membutuhkan pendekatan multidisiplin oleh dokter anak, dokter THT, psikolog atau ahli terapis tumbuh kembang anak.
Penanganan untuk keterlambatan bicara bergantung pada penyebabnya, dan juga melibatkan kerja sama antara dokter spesialis tergantung permasalahannya, terapis wicara, terapis tumbuh kembang anak, dan tentunya orangtua.
Apabila anak Anda mengalami Keterlambatan Bicara silakan Konsultasikan pada kami.

Apakah Anak Hiperaktif ADHD?

Health Medical

Maya, usia 6 tahun dibawa ke dokter karena mendengkur dan tampak sesak nafas saat tidur. Anak tersebut tampak lincah dan tak bisa diam. Ia selalu bergerak dan menanyakan segala hal di sekitarnya. Walau demikian, si ibu dengan sedih menjelaskan bahwa Maya kemungkinan menderita ADHD ringan. ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perilaku yang berkaitan dengan proses tumbuh kembang anak yang ditandai dengan hiperaktifitas, impulsivitas dan kurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi. Meskipun Maya tidak dikategorikan sebagai ADHD, si Ibu tidak bisa mengabaikan keadaan anaknya yang amat aktif, tak bisa diam dan mudah rewel tersebut. Dan ia amat terkejut sewaktu dokter menjelaskan bahwa kondisi hiperaktifitas anaknya tersebut mungkin sekali berkaitan dengan tidur ngorok Maya.

Sleep Apnea Pada Anak

Sleep apnea adalah gangguan tidur  yang ditandai dengan mendengkur dan rasa kantuk berlebih. Sleep apnea, yang artinya henti nafas saat tidur, pada orang dewasa menjadi penyebab hipertensi berbagai penyakit jantung, diabetes hingga stroke. Pada anak, sleep apnea, menjadi lebih serius karena ternyata berhubungan langsung dengan proses tumbuh kembangnya.

Coba perhatikan anak yang sedang tidur ngorok. Pada suatu saat suara ngorok tersebut akan hilang, dan anak tampak sesak seolah tercekik. Yang terjadi sebenarnya adalah penyempitan jalan nafas yang mengakibatkan udara tidak dapat masuk atau keluar. Gerakan nafas akan menghebat karena sesak. Akibat oksigen yang merosot dan kadar karbondioksida yang meroket, si anak akan terbangun disertai suara hentakan keras seolah nafas baru terbebas. Episode bangun ini disebut sebagai episode bangun mikro (micro arousal) karena walau gelombang otak terbangun, namun si anak tidak terjaga. Dan episode ini terus berulang sepanjang malam hingga mengganggu kualitas tidur. Akibatnya, ia akan terus berada dalam kondisi kurang tidur, walaupun sebenarnya sudah tidur cukup. Anak, untuk melawan rasa kantuknya justru jadi semakin aktif secara fisik.

Sekarang bayangkan jika anak Anda yang normal, dalam tidurnya setiap 20-30 detik sekali ditepuk hingga terbangun. Apa yang terjadi? Tentu di siang hari dia akan rewel, sulit berkonsentrasi dan cenderung hiperaktif. Bagaimana jika setiap tidur ini terjadi? Tak heran jika banyak anak penderita sleep apnea yang tampilannya jadi mirip dengan ADHD.

Belakangan, wacana sleep apnea banyak dibicarakan. Para dokter anak pun sudah amat peka terhadap masalah ini. Hanya sayang, kita masih terlalu terpaku pada artikel-artikel yang menyatakan bahwa anak gemuklah yang biasanya ngorok. Padahal ini tidak sepenuhnya benar. Seperti Maya halnya. Dia termasuk anak yang tidak gemuk. Malah cenderung langsing. Berdasarkan berbagai penelitian di Korea, ras Asia tidak perlu gemuk untuk menderita sleep apnea. Ini disebabkan oleh struktur rahang kita yang lebih sempit dan leher yang lebih pendek dibanding ras Eropa.

Tidur pada Anak

Proses tidur amatlah penting bagi seorang anak. Karena proses tumbuh kembang justru terjadi pada saat tidur. Pada tahap tidur dalam, dikeluarkan growth hormone yang berperan dalam proses pertumbuhan. Sedangkan pada tahap tidur mimpi, dipercaya sebagai tahap tidur dimana kemampuan kognitif, mental dan emosional dijaga.

Dengan adanya sleep apnea, proses tidur akan terpotong-potong. Akibatnya proses tumbuh kembang pun terganggu. Kecerdasan dan potensi-potensi mental lain yang seharusnya tumbuh dan berkembang saat tidur, tidak tumbuh. Kondisi emosionalnya pun buruk, anak jadi rewel dan mudah marah. Karena mengantuk, anak juga semakin aktif dan sulit memusatkan perhatian.

ADHD dan Tidur

Anak yang memang terdiagnosa ADHD pun harus tetap diperhatikan tidurnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak ADHD menunjukkan kemajuan yang berarti setelah dirawat gangguan tidurnya. Sebuah artikel di jurnal kedokteran SLEEP bahkan mengatakan bahwa anak ADHD merespon terapi stimulan dengan baik karena mereka mengalami kantuk berlebih (excessive daytime sleepiness.) Penelitian ini juga menyatakan bahwa 50% dari anak ADHD menderita sleep apnea, sedangkan pada anak normal hanya 22% yang menderita. Gangguan tidur lain yang juga sering ditemui pada anak ADHD adalah periodic limb movements in sleep (PLMS).

Penelitian lain yang dilakukan di Taiwan tahun 2004 menganjurkan agar seorang anak yang didiagnosa dengan ADHD juga diperhatikan tidurnya. Karena mereka menemukan bahwa penderita ADHD yang juga menderita sleep apnea memiliki kondisi yang lebih buruk dibanding anak ADHD tanpa gangguan tidur. Lebih jauh lagi, di tahun 2007 kelompok yang sama, menerbitkan penelitian mereka yang menunjukkan hubungan sleep apnea dengan terapi ADHD. Pada penelitian tersebut, mereka membuktikan bahwa anak ADHD penderita sleep apnea, bisa menghindari efek samping pengobatan ADHD jika sleep apnea-nya dirawat.

Untuk anak penderita ADHD pengobatan yang paling sering diberikan adalah golongan stimulan. Namun jadwal pengobatan yang kurang tepat malah dapat menyebabkan anak sulit tidur sehingga gejala ADHD semakin menjadi parah. Untuk itu, sesuaikanlah pemberian obat dengan jadwal tidur anak.

Perawatan

Seperti Maya, anak yang mendengkur harus menjalani pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Dalam pemeriksaan ini anak akan direkam fungsi-fungsi tubuhnya selama tidur sepanjang malam. Yang mengejutkan pada kasus Maya, ia mengalami henti nafas sebanyak 106 kali perjam.

Pemilihan terapi harus berdasarkan pemeriksaan tidur dan pemeriksaan THT yang seksama. Kebanyakan sleep apnea pada anak disebabkan oleh pembesaran adenoid dan tonsil sehingga terapi lebih diarahkan pada kedua organ tersebut. Namun ada juga kemungkinan harus menggunakan CPAP (continuous possitive airway pressure.)

Setelah Maya menjalani perawatan, kini ia tidur nyaman, tidak mendengkur, kantuk berlebih hilang, dan tidak hiperaktif lagi. Dan keluarga pun dapat tidur tenang mengetahui bahwa segala potensi dapat tumbuh pesat di saat Maya tertidur.

Tunagrahita Anak Berkebutuhan Khusus

Health Medical

Banyak terminologi yang digunakan menyebut mereka yang kondisi kecerdasannya dibawah rata-rata. Dalam Bahasa Indonesia, istilah yang pernah digunakan, misalnya lemah otak, lemah ingatan, lemah pikiran, retardasi mental, terbelakang mental, cacat grahita, dan tunagrahita.

Jadi tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan atau kelainan dalam hal kemampuan intelengensi yang berada dibawah rata-rata normal.

  1. Klasifikasi Tunagrahita

Pengklasifikasian anak tunagrahita penting dilakukan untuk mempermudah guru dalam menyusun program dan melaksanakan layanan pendidikan. Penting untuk memahami bahwa pada anak tunagrahita terdapat perbedaan individual yang variasinya sangat besar.

Pengklasifikasian ini pun bermacam-macam sesuai dengan disiplin ilmu maupun perubahan pandangan terhadap keberadaan anak tunagrahita. Klasifikasi anak tunagrahita yang telah lama dikenal adalah debil ( IQ 50-75), imbecile( IQ 25-50), dan idiot (IQ 0-25). Sedangkan klasifikasi yang dilakukan oleh kaum pendidik di Amerika adalah educable mentally retarded (mampu didik), trainable mentally retarded (mampu latih) dan totally/custodial dependent (mampu rawat).

Selain klasifikasi diatas ada pula pengelompokan berdasarkan kelainan jasmani yang disebut tipe klinik. Tipe-tipe klinik yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. a) Down syndrome (Mongoloid)

Anak Tunagrahita jenis ini disebut demikian karena memiliki raut muka menyerupai orang mongol dengan mata sipit dan miring, lidah tebal suka menjulur keluar, telinga kecil, kulit kasar, susunan gigi kurang baik

       2.b) Kretin (Cebol)

Anak ini memperlihatkan ciri-ciri, seperti badan gemuk dan pendek, kaki dan tangan pendek dan bengkok, kulit kering, tebal, dan keriput, rambut kering, lidah dan bibir, kelopak mata, telapak tangan dan kaki tebal, pertumbuhan gigi terlambat

       3.c) Hydroceptal

Anak ini memiliki cirri-ciri kepala besar, raut muka kecil, pandangan dan pendengaran tidak sempurna, mata kadang-kadang juling.

       4.d) Microcepal

Anak ini memiliki ukuran kepala yang kecil

  1. Karakteristik anak tunagrahita

Karakteristik anak tunagrahita dapat dibagi secara umum dan khusus. Secara umum karakteristik anak tunagrahita dapat ditinjau dari segi akademik, sosial emosional, fisik/kesehatan.

1.Akademik

Kapasitas belajar anak tunagrahita sangat terbatas, lebih-lebih kapasitasnya mengenai hal-hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan membeo (rote learning) dari pada dengan pengertian. Dari hari kehari mereka membuat kesalahan yang sama. Mereka cenderung menghindar dari perbuatan berpikir. Mereka mengalami kesukaran memusatkan perhatian, dan lapangan minatnya sedikit. Mereka juga cenderung cepat lupa, sukar membuat kreasi baru, serta rentang perhatiannya pendek.

2.Sosial/emosional

Dalam pergaulan anak tunagrahita tidak dapat mengurus diri, memelihara dan memimpin diri. Ketika masih muda mereka harus dibantu terus karena mereka mudah terperosok kedalam tingkah laku yang kurang baik. Mereka cenderung bergaul atau bermain bersama dengan anak yang lebih muda darinya.

Kehidupan penghayatanya terbatas. Mereka juga tidak mampu tidak mampu menyatakan rasa bangga dan kagum. Mereka mempunyai kepribadian yang kurang dinamis, mudah goyah, kurang menawan, dan tidak berpandangan luas. Mereka juga mudah disugesti atau dipengaruhi sehingga tidak jarang dari mereka mudah terperosok kehal-hal yang tidak baik, seperti mencuri, merusak, dan pelanggaran seksual.

Namun dibalik itu semua mereka menunjukkan ketekunan dan rasa empati yang baik asalkan mereka mendapatkan layanan atau perlakuan yang kondusif.

3.Fisik/kesehatan

Baik struktur maupun fungsi tubuh pada umumnya anak tunagrahita kurang dari anak normal. Mereka baru dapat berjalan dan berbicara pada usia yang lebih tua dari anak normal. Bagi anak tunagrahita yang berat dan sangat berat kurang merasakan sakit, bau badan tidak enak, badannya tidak segar tenaganya kurang mempunyai daya tahan dan banyak yang meninggal pada usia muda . Mereka mudah terserang penyakit keterbatasan memelihara diri serta tidak memahami cara hidup sehat.

Adapun secara khusus karakteristik anak tunagrahita dapat digolongkan menurut tingkat ketunagrahitaanya.

A.Karakteristik tunagrahita ringan

Tunagrahita ringan disebut juga moron atau debil. Kelompok ini memiliki IQ antara 68-52 menurut skala Binet, sedangakan menurut skala Weschler (WISC) memiliki IQ 69-55. Mereka masih mampu dididik dan dikembangkan dalam hal: membaca, menulis, mengeja, dan berhitung, menyesuaikan diri dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain.

Meskipun tidak dapat menyamai anak normal seusia dengannya, mereka masih dapat belajar membaca, menulis dan berhitung sederhana. Pada usia 16 tahun atau lebih mereka dapat mempelajari bahan yang tingkat kesukarannya sama dengan kelas 3 dan kelas 5 SD. Kematangan belajar membaca baru dicapai pada umur 9 tahun dan 12 tahun sesuai dengan kecepatan berat dan ringannya kelainan. Mereka dapat bergaul dan mempelajari pekerjaan yang hanya memerlukan semi skilled. Sesudah dewasa banyak diantara mereka yang mampu berdiri sendiri. Pada usia dewasa kecerdasannya mencapai tingkat usia anak normal 9 dan 12 tahun.

B.Karakteristik anak Tunagrahita sedang

Anak tunagrahita sedang atau (imbesil). Kelompok ini memiliki IQ 51-36 pada skala Binet dan 54-40 menurut skala Weschler (WISC), hampir tidak bisa mempelajari pelajaran-pelajaran akademik. Perkembangan bahasanya lebih terbatas dari pada anak tunagrahita ringan. Mereka dapat berkomunikasi dengan beberapa kata. Mereka dapat membaca dan menulis, seperti namanya sendiri, alamatnya, nama orang tuanya, dan lain-lain. Mereka mengenal angka-angka tanpa pengertian. Namun demikian, mereka masih memiliki potensi untuk mengurus diri sendiri. Mereka dapat dilatih untuk mengerjakan sesuatu secara rutin, dapat dilatih berkawan, mengikuti dan menghargai hak milik orang lain.

C.Karakteristik anak tunagrahita berat dan sangat berat

Anak tunagrahita berat dan sangat berat (idiot) kelompok ini menurut skala Binet memiliki IQ antara 32-20 dan menurut skala weschler (WISC) adalah 39-25, hidupnya akan selalu tergantung pada pertolongan dan bantuan orang lain. Mereka tidak dapat memelihara diri sendiri (makanan, berpakaian, ke WC, dan sebagainya harus dibantu). Mereka tidak dapat membedakan bahaya dan bukan bahaya. Ia juga tidak dapat bicara kalaupun bicara hanya mampu mengucapkan kata-kata atau tanda sederhana saja. Kecerdasannya walaupun mencapai usisa dewasa berkisar seperti anak normal usia paling tinggi 4 tahun. Untuk menjaga kestabilan fisik dan kesehatannya mereka perlu diberikan kegiatan yang bermanfaatnya, seperti mengampelas memindahkan benda, mengisi karung dengan beras sampai penuh.

Bahaya Kelainan Perilaku yang Terjadi Pada Anak

Health

Kelainan perilaku atau Behavioral Disorder sering juga disebut Distruptive Behavioral Disorder, adalah suatu gangguan perilaku yang biasanya menjadi alasan orang tua untuk membawa anaknya ke terapis kesehatan mental. Behavioral Disorder pada umumnya terjadi pada anak-anak, tetapi menutup kemungkinan terjadi juga pada orang dewasa.  Jika gangguan perilaku ini terjadi pada masa kanak-kanak dan terus dibiarkan tanpa penanganan yang tepat dan serius maka akan menimbulkan efek yang negatif di masa depan, seperti sulitnya mendapatkan pekerjaan atau menjalin hubungan sosial.

Ciri ciri dari anak atau orang dewasa yang memiliki kelainan perilaku atau behavioral disorder, antara lain :

  1. Mudah terganggu atau mudah gugup
  2. Sering terlihat marah
  3. Menolak untuk mengikuti aturan atau mempermasalahkan aturan
  4. Berdebat dan menunjukan kemarahan dengan mengamuk
  5. Kesulitan dalam mengendalikan rasa kekecewaan
  6. Terkadang muncul gejala fisik, seperti: demam, ruam, sakit kepala, gemetaran, ujung jari menghitam, mata merah

Tipe atau jenis dari behavioral disorder, antara lain :

  1. ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
  2. Kelainan emosi
  3. Kecemasan
  4. Perilaku yang mengganggu atau membahayakan

ADHD adalah suatu kondisi  individu yang mengalami kesulitan  dalam berkonsentrasi dan fokus secara benar, termasuk sulit mengendalikan perilaku bergerak yang menyebabkan adanya hiperaktif. Berdasarkan beberapa penelitian ADHD lebih sering terjadi pada anak laki laki dibanding dengan anak perempuan.

Kelainan emosi atau Emotional Behavioral Disorder adalah suatu gangguan perilaku yang disertai dengan gangguan emosi. Gangguan ini berpengaruh pada kemampuan seorang anak untuk bahagia, mengendalikan emosi dan mempertahankan perhatian di dalam kelas.

Gejala dari Emotional Behavioral Disorder, antara lain :

  1. Bertindak atau mengeluarkan emosi yang kurang tepat pada suatu kondisi yang seharusnya normal
  2. Kesulitan dalam belajar yang disebabkan selain dari gangguan faktor kesehatan atau fisik
  3. Kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal baik dengan guru maupun dengan teman sebaya,
  4. Perasaan yang muncul umumnya adalah perasaan tidak senang atau tertekan
  5. Perasaan ketakutan yang berhubungan dengan kecemasan
  6. Oppositional Defiant Disorder (ODD) yaitu suatu keadaan perilaku yang ditandai dengan perilaku yang bertentangan atau selalu menimbulkan pertentang Perilaku ini merupakan perilaku yang kurang kooperatif pada anak-anak, bahkan menunjukan sikap yang secara sengaja mengganggu orang-orang yang berwenang seperti guru atau mentor.
  7. Sering terjadi kecemasan.

Kecemasan dalam kehidupan merupakan kondisi yang normal terjadi. Kita sering mengalami kecemasan terhadap hal-hal tertentu, namun biasanya dapat diatasi. Walaupun demikian, kecemasan bagi beberapa orang sangat mempengaruhi bahkan mengganggu kehidupan sehari harinya. Salah satu contoh yang dapat diakibatkan oleh kecemasan, yaitu insomnia. Insomnia  merupakan gangguan susah tidur yang muncul dari kecemasan dan dapat berpengaruh buruk pada kinerja di kantor atau di sekolah.

Berikut ini adalah beberapa contoh dari kecemasan :

  • Post traumatic stress disorder, yaitu kecemasan yang disebabkan oleh trauma pikiran yang terjadi di masa lalu. Kecemasan ini terjadi karena tekanan mental akibat trauma pikiran.
  • Generalized anxiety disorder, yaitu gangguan suasana hati yang ditandai oleh banyaknya kekhawatiran.
  • Panic disorder, suatu serangan panik yang terjadi karena adanya ketakutn yang berlebihan.
  • Obsessive compulsive disorder (OCD), yaitu gangguan kecemasan yang berhubungan dengan perilaku yang mengharus kan dilakukan berulang secara terus menerus meskipun individu tersebut menyadari akan adanya hasil negatif yang akan di timbulkan. Tindakan yang dilakukan berulang-ulang ini hanyalah sebagai penghilang stress sementara, dan jika tidak ditangani secara serius kelainan ini akan berdampak buruk pada kehidupannya dimasa yang akan datang.

Perilaku yang membahayakan dari behavioral disorder adalah perilaku-perilaku yang dapat mencelakakan diri sendiri ataupun orang lain.  Perilaku membahayakan ini, antara lain memukul orang,  berkelahi, atau mungkin menyakiti diri sendiri dengan sering memukulkan  kepala sendiri  ke tembok.

Penyebab dari behavioral disorder

Kelainan perilaku atau behavioral disorder disebabkan oleh banyak faktor, seperti :

Penyebab biologis, diantaranya :

  • Penyakit fisik atau disabilitas
  • Kurang gizi
  • Kerusakan otak
  • Faktor keturunan

Penyebab lainnya, antara lain:

  • Perceraian atau kejadian buruk yang memicu emotional
  • Tidak konsisten atau gaya berdisiplin yang tidak sehat
  • Sikap buruk terhadap pendidikan atau sekolah

Penanganan atau Terapi Behavioral Disorder

Dibutuhkan penanganan atau terapi yang tepat untuk menangani seorang anak yang mengalami gangguan perilaku ini agar tidak membahyakan diri sendiri dan juga orang lain. Penanganan yang tepat secara dini  pun diperlukan agar masa depan seorang anak tidak terganggu.

Penanganan Behavioral Disorder ini dlihat dari sisi medis maupun sisi psikologis seorang anak. Apabila ada gangguang dari fisik ataupun medis, seorang anak yang mengalami behavioral disoder ini dapat dirujuk ke dokter untuk mendapatkan obat-obatan oral atau suntik. Sedangkan penanganan dari sisi psikologisnya, seorang anak dengan behavioral disorder dapat mengikuti terapi psikologi ataupun hipnoterapi.