Anak TERLAMBAT BICARA

Seorang anak perempuan berumur 20 bulan dibawa oleh ibunya ke Klinik Tumbuh Kembang. Ibunya merasa bahwa perkembangan bicara anaknya tidak seperti teman sebayanya. Anak belum bisa memanggil orang tuanya, dan bila dipanggil tidak menoleh.

“Apa yang harus Saya Lakukan ? “

Bahasa adalah suatu sistem komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan dan menerima pesan dari satu orang ke orang lain dengan menggunakan cara yang telah disepakati, baik verbal maupun non verbal, misalnya mimik muka, kontak mata, menunjuk, dan lain-lain. Kemampuan berbahasa adalah kemampuan seseorang untuk memahami, memproses dan memproduksi komunikasi.
Gangguan bicara dan bahasa merupakan salah satu masalah perkembangan yang sering terjadi pada anak. Di Amerika Serikat, 3-10 % anak prasekolah menderita keterlambatan bicara dan bahasa dan 40-60% berlanjut sampai usia sekolah. Hal ketidakmampuan ini berhubungan dengan resiko rendahnya prestasi belajar dan problem psikososial. Laki-laki 3-4 kali lebih sering mengalami gangguan bicara dibandingkan perempuan.
Perkembangan dari kemampuan berbicara dan bahasa merupakan indikator awal yang berguna untuk memprediksi perkembangan psikomotor dan kognisi. Adanya keterlambatan atau gangguan berbicara, dapat menjadi potensi untuk keterlambatan pada perkembangan anak lainnya. Deteksi dan intervensi dini anak dengan keterlambatan bicara dan bahasa dapat mencegah permasalahan emosi, sosial dan kognisi dan memperbaiki hasil perkembangan anak tersebut.
Seorang anak dianggap mengalami keterlambatan bicara bila perkembangan bicara anak tersebut secara bermakna berada di bawah kemampuan perkembangan anak seusianya. Perkembangan bicara sama seperti anak normal, hanya kecepatannya lebih lambat dibanding anak normal. Sedangkan anak dengan gangguan / penyimpangan bahasa atau bicara adalah anak dengan pola bahasa/ bicara tidak seperti anak normal, misalnya ekolalia (kata yang diulang-ulang) atau bahas “ planet” pada anak autisme. Masalah dalam bicara meliputi gagap (suttering), gangguan artikulasi, kesulitan dalam grammer (syntax), kata atau kosakata (sematics), produksi suara (fonologi), arti kata (morfologi), penggunaan bahasa dalam konteks sosial (pragmatik).
Ganguan bahasa dan bicara bisa terjadi bersama-sama bisa juga terjadi sendiri-sendiri. Banyak anak yang mengalami keterlambatan dan perkembangan bicara yang tidak terdiagnosis, karena masih kurangnya pemahaman terhadap konsep dasar dan milestone perkembangan bicara. Skrining perkembangan bicara dengan menggunakan instrumen yang telah tervalidasi dapat digunakan untuk mendeteksi adanya keterlambatan atau gangguan perkembangan bicara, sehingga intervensi dini dapat dilakukan.
Lambat bicara pada anak memang dapat menimbulkan kecemasan orangtua. Di sisi lain, terkadang anak dengan gangguan bicara dan bahasa tidak mendapat perhatian karena orangtua berpikir “Ah, tidak apa-apa, nanti juga bisa bicara” atau “Dia hanya terlambat mulai saja, nanti dia pasti akan mengejar.”
Untuk dapat mendeteksi dini keterlambatan bicara secara sederhana, tentunya orang tua perlu mengetahui tahapan bicara anak secara normal. Di bawah ini ada beberapa tanda sederhana untuk mengetahui apakah anak masih sesuai tahapan perkembangan bicaranya :

Bayi Usia 0-6 bulan

Saat lahir, bayi hanya dapat menangis untuk menyatakan keinginannya. Pada usia 2-3 bulan, bayi mulai dapat membuat suara-suara seperti aah atau uuh. Suara seperti ini dikenal dengan istilah cooing. Pada tahapan ini, bayi juga senang bereksperimen dengan berbagai bunyi yang dapat dihasilkannya, misalnya suara menyerupai berkumur. Bayi juga mulai bereaksi terhadap suara orang lain. Setelah berusia 3 bulan, bayi akan mulai belajar mencari sumber suara yang didengarnya dan menyukai mainan yang mengeluarkan suara.
Mendekati tahapan usia 6 bulan, bayi sudah mulai dapat memberikan respon terhadap panggilan namanya sendiri. Ia juga mulai mengenali emosi dan tekanan dalam nada bicara. Istilah Cooing berangsur berubah menjadi babbling, yakni mengoceh dengan suku kata tunggal, misalnya papapapapa, dadadadada, bababababa, mamamamama. Pada tahapan ini, bayi juga sudah mulai dapat mengatur nada bicaranya sesuai emosi yang dirasakannya beserta dengan ekspresi wajah yang sesuai.
Pada Tahapan ini, orang tua perlu waspada apabila : bayi tidak menoleh jika dipanggil namanya dari belakang, dan tidak ada babbling.

Usia 6-12 bulan

Pada tahapan usia 6-9 bulan, bayi mulai mengerti nama-nama orang dan benda- benda yang sering ditemuinya. Bayi juga mulai mengenal konsep-konsep dasar seperti iya,boleh, tidak, habis. Saat melakukan babbling, bayi menggunakan intonasi atau nada bicara seperti bahasa ibunya. Ia pun mulai dapat mengucapkan kata-kata sederhana seperti mama dan papa tanpa arti.
Pada tahapan usia 9-12 bulan, ia sudah mulai dapat mengucapkan mama dan papa (atau istilah lain yang biasa digunakan untuk ibu dan ayah atau pengasuh utama lainnya) sesuai dengan artinya. Bayi mulai mengerti untuk menengok apabila namanya dipanggil dan mengerti beberapa perintah sederhana, misal lihat itu, atau ayo ke sini. Pada tahapan ini, bayi mulai menggunakan isyarat untuk menyatakan keinginannya, misalnya menunjuk, merentangkan tangan ke atas untuk minta digendong, atau melambaikan tangan. Ia suka mulai suka membeo atau menirukan kata dan bunyi yang didengarnya. Pada usia 12 bulan bayi sudah mengerti sekitar 70 kata.
Pada Tahapan ini, orang tua perlu waspada apabila : bayi tidak menggunakan isyarat dengan tangannya, misal menunjuk dengan jari pada usia 12 bulan, atau ekspresi wajah saat berkomunikasi kurang terlihat.

Usia 12-18 bulan

Pada tahapan usia ini, anak sudah menginjak 1 tahun dan biasanya sudah dapat mengucapkan 3-6 kata dengan arti. Anak sudah dapat mengangguk atau menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan yag ditanyakan oleh orang tuanya. Anak sudah mulai dapat menunjuk anggota tubuh atau gambar yang disebutkan orang lain, dan mulai mengikuti perintah satu langkah (Tolong ambilkan mainan itu). Pada tahapan ini, kosa kata anak bertambah dengan pesat. Pada usia 15 bulan ia mungkin baru dapat mengucapkan 3-6 kata dengan arti, namun pada usia 18 bulan kosakatanya telah mencapai 5-50 kata. Pada akhir tahapam ini, anak sudah bisa menyatakan sebagian besar keinginannya dengan kata-kata.
Pada Tahapan ini, orang tua perlu waspada apabila : tidak ada kata yang berarti pada usia 16 bulan

Usia 18-24 bulan

Dalam kurun waktu ini anak mengalami lonjakan dalam berbahasa. Hampir setiap hari anak belajar kosakata baru. Ia mulai belajar dari siapapun orang di sekitarnya. Anak sudah dapat membuat kalimat yang terdiri atas dua kata (adek mandi, naik sepeda, mau mamam). Anak juga sudah dapat mengikuti perintah yang lebih panjang. Pada fase ini anak akan senang mendengarkan cerita. Pada tahapan usia dua tahun, sekitar 50% bicaranya dapat dimengerti orang lain.
Pada Tahapan ini, orang tua perlu waspada apabila : Tidak ada kalimat yang dapat dimengerti pada usia 24 bulan

Usia 2-3 tahun

Setelah usia 2 tahun, hampir semua kata yang diucapkan anak telah dapat dimengerti oleh orang lain. Anak sudah biasa menggunakan kalimat dengan 2-3 kata. Saat anak mendekati usia 3 tahun anak sudah dapat menggunakan kalimat dengan 3 kata atau lebih. Dan lebih jauh lagi, ia mulai dapat menggunakan kalimat tanya. Ia mulai dapat menyebutkan nama dan kegunaan benda-benda yang sering ditemui. Anak sudah mulai mengenal warna, dan mulai senang bernyanyi lagu pendek atau bersajak
Pada Tahapan ini, orang tua perlu waspada apabila : Anak belum bisa mengatakan dengan jelas keinginannya.

Usia 3-5 tahun

Tahapan anak pada usia ini mulai tertarik mendengarkan cerita dan percakapan orang di sekitarnya. Ia sudah dapat menyebutkan nama, umur, dan jenis kelaminnya, serta menggunakan kalimat-kalimat panjang (>4 kata) saat berbicara. Pada usia 4 tahun, bicaranya sepenuhnya sudah dapat dimengerti oleh orang lain. Anak sudah dapat menceritakan dengan lancar dan cukup rinci tentang hal-hal yang dialaminya.
Pada Tahapan ini, orang tua perlu waspada apabila : kalimat-kalimat anak belum dapat dimengerti sepenuhnya.
Apabila terdapat salah satu tanda waspada di atas, periksakanlah anak Anda ke dokter atau pada ahli tumbuh kembang anak. Secara umum, pada usia berapapun, bawalah anak untuk diperiksakan jika ia menunjukkan kemunduran dalam kemampuan berbicara atau kemampuan bersosialisasinya.
Penyebab keterlambatan bicara
Keterlambatan bicara dapat disebabkan gangguan pendengaran, gangguan pada otak (misalnya retardasi mental, gangguan bahasa spesifik reseptif dan/atau ekspresif), autisme, atau gangguan pada organ mulut yang menyebabkan anak sulit melafalkan kata-kata (dikenal sebagai gangguan artikulasi). Untuk menegakkan diagnosis penyebab keterlambatan bicara, perlu pemeriksaan yang teliti oleh dokter, yang terkadang membutuhkan pendekatan multidisiplin oleh dokter anak, dokter THT, psikolog atau ahli terapis tumbuh kembang anak.
Penanganan untuk keterlambatan bicara bergantung pada penyebabnya, dan juga melibatkan kerja sama antara dokter spesialis tergantung permasalahannya, terapis wicara, terapis tumbuh kembang anak, dan tentunya orangtua.
Apabila anak Anda mengalami Keterlambatan Bicara silakan Konsultasikan pada kami.
Health Inspiration

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *